Loading...
Pak Setu (50), pedagang balon dengan keterbatasan fisik yang membuktikan
bahwa kekurangan bukan jadi alasan untuk bermalas-malasan.
Tak dipungkiri, rasa malas kerap kali menghampiri, hingga sering kali
kita lalai dari kewajiban kita untuk bekerja membiayai hidup keluarga.Langkahnya semakin terdorong dengan kewajibannya sebagai kepala keluarga, yang harus menafkahi anggota keluarganya.
Dengan keterbatasan fisik itu pula, Pak Setu hanya mampu berjualan balon di area Notosuman, Solo, dengan penghasilan yang tidak pasti. Meski demikian, profesi Pak Setu jauh lebih mulia dibandingkan mengemis, meminta belas kasihan orang-orang.
“Sungguh indah, perjuangan seseorang, yang beliau yakin akan RezekiNya..
Beliau lalui dengan berniaga..
Pantang meminta-minta..
Potret Perjuangan Pak Setu 50th, seakan memberikan pelajaran berharga..
Bahwa dlm kondisi apapun, kita musti pantang menyerah, terlebih dalam meraih rezeki-Nya dengan cara yang halal..
Semangaaat Pak Setu..
Semoga setiap peluhmu, berujung berkah..”
Belakangan, media sosial kembali menunjukkan ‘kekuatannya’. Warganet mulai menggalang donasi di situs kitabisa.com, untuk meringankan beban Pak Setu, demikian sebagaimana dilansir suar.grid.id.
