Loading...
Lihat sekeliling, banyak berdasarkan kita atau bahkan kita sendiri yang
memberitahuakn kekuasaan atas mereka yg miskin tetapi murah hati dalam
mereka yg nir membutuhkan bantuan.

Mau nir mau, peristiwa-insiden terebut sebagai empiris yg tak jarang kita temui.
Ini adalah kisah seorang wanita yang membeli telur dalam penjual telur tua.
Banyak dari kita yang tidak sadar telah melakukan hal ini pada penjual-penjual mini . Seorang perempuan mendekati penjual telur tua itu.
Dia bertanya, “berapa harga telur ini?”
Penjual tua menjawab. “1 $ per 10 butir telur, madam.”
Wanita itu kemudian menyampaikan lagi, “Saya ingin membeli 15 butir telur seharga 1 $. Jika nir boleh, aku akan pulang.”
Penjual lantas menjawab, “Bawalah telur ini madam dengan harga yg Anda inginkan. Mungkin, ini pembuka rezeki buat aku lantaran belum ada yg membeli telur pun hari ini.”
Wanita ini membeli telur lantas pulang menggunakan perasaan menang.
Dia masuk ke mobol mewahnya & pulang ke restoran glamor pula dengan sahabat-temannya.
Di sana, dia dan temannya memesan kuliner apa pun yang mereka senang. Mereka makan sedikit & menyisakan poly makanan di meja.
Lalu, beliau pulang ke kasir untuk membayar tagihannya sebesar $ 140. Dia memberikan uang sebesar $150 & meminta pemilik restoran buat mengambil kembalianya.
Apa yg dilakukan perempuan itu mungkin tampak normal bagi pemilik restoran tetapi akan begitu menyakitkan bagi penjual telur yang malang.
Mengapa kita selalu menunjukkan kekuatas atas mereka yg lemah?
Mengapa kita bermurah hati dalam mereka yang bahkan nir membutuhkan bantuan kita?
Seorang ayah biasa membeli barang sederhana menurut orang miskin dengan harga tinggi, meskipun dia nir membutuhkan barang itu.
Dia bahkan biaya membayarnya ekstra. Anakanya khawatir dengan tindakan yan dilakukan ayah itu, lalu beliau bertanya pada ayahnya.
Lalu ayahnya menjawab, “Ini adalah sebuah amal yang dibungkus dengan prestise, wahai anakku.”

Mau nir mau, peristiwa-insiden terebut sebagai empiris yg tak jarang kita temui.
Ini adalah kisah seorang wanita yang membeli telur dalam penjual telur tua.
Banyak dari kita yang tidak sadar telah melakukan hal ini pada penjual-penjual mini . Seorang perempuan mendekati penjual telur tua itu.
Dia bertanya, “berapa harga telur ini?”
Penjual tua menjawab. “1 $ per 10 butir telur, madam.”
Wanita itu kemudian menyampaikan lagi, “Saya ingin membeli 15 butir telur seharga 1 $. Jika nir boleh, aku akan pulang.”
Penjual lantas menjawab, “Bawalah telur ini madam dengan harga yg Anda inginkan. Mungkin, ini pembuka rezeki buat aku lantaran belum ada yg membeli telur pun hari ini.”
Wanita ini membeli telur lantas pulang menggunakan perasaan menang.
Dia masuk ke mobol mewahnya & pulang ke restoran glamor pula dengan sahabat-temannya.
Di sana, dia dan temannya memesan kuliner apa pun yang mereka senang. Mereka makan sedikit & menyisakan poly makanan di meja.
Lalu, beliau pulang ke kasir untuk membayar tagihannya sebesar $ 140. Dia memberikan uang sebesar $150 & meminta pemilik restoran buat mengambil kembalianya.
Apa yg dilakukan perempuan itu mungkin tampak normal bagi pemilik restoran tetapi akan begitu menyakitkan bagi penjual telur yang malang.
Mengapa kita selalu menunjukkan kekuatas atas mereka yg lemah?
Mengapa kita bermurah hati dalam mereka yang bahkan nir membutuhkan bantuan kita?
Seorang ayah biasa membeli barang sederhana menurut orang miskin dengan harga tinggi, meskipun dia nir membutuhkan barang itu.
Dia bahkan biaya membayarnya ekstra. Anakanya khawatir dengan tindakan yan dilakukan ayah itu, lalu beliau bertanya pada ayahnya.
Lalu ayahnya menjawab, “Ini adalah sebuah amal yang dibungkus dengan prestise, wahai anakku.”